HAPPY READING

Kamis, 22 Oktober 2015

IPSku bab 1


Letak Wilayah dan Pengaruhnya Bagi Keadaan Alam Indonesia

1.    Letak Astronomis
Letak astronomis adalah letak suatu tempat berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Garis lintang adalah garis khayal yang melintang melingkari bumi. Garis bujur adalah garis khayal yang menghubungkan kutub utara dan selatan. Secara astronomis, Indonesia terletak antara 95 BT – 141 BT dan 6 LU – 11 LS. Dengan letak astronomis tersebut, Indonesia termasuk dalam wilayah tropis. Wilayah tropis dibatasi oleh lintang 23,5 LU dan 23,5 LS. Perhatikanlah batas wilayah tropis dan letakastronomis Indonesia pada peta berikut.

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZwyQvc8OdNIDeBqMUVLo5MoclgrQT98MEYoDQ_pm4_KjjKOvf4wx6fzjwAOp1YPYlRhpjL5qgPAMTVBOfU-rejyjC50vlh5X5eafMULODhJhyphenhyphenfr_1OG0ZGJjW9EXzbbypZVQfbwh-s4iF/s1600/letak+astronomis+indonesia+cc.jpg




Pegaruh letak astronomis Indonesia:
Indonesia beriklim tropis, Indonesia memiliki 3 daerah waktu, Tanah Indonesia subur karena memiliki hutan hujan tropis.
2.    Letak Geografis
Letak geografis adalah letak suatu negara di permukaan bumi. Secara geografis, Indonesia terletak diantara dua benua dan dua samudra. Benua yang mengapit Indonesia adalah benua Asia yang terletak di sebelah utara Indonesia dan benua Autralia yang terletak disebelah selatan Indonesia. Samudra yang mengapit Indonesia adalah samudra Pasifik disebelah timur Insonesia dan samudra Hindia disebelah barat Indonesia.
Wilayah Indonesia juga berbatasan dengan sejumah wilayah. Batas – batas wialayah Indonesia dengan wilayah lain adalah sebagai berikut.
Ø  Di sebalah utara, Indonesia berbatasan dengan Malaysia, Singapura, Palau, Filliphina dan Laut Cina Selatan.
Ø  Di sebelah selatan , Indonesia berbatasan dengan Timor Leste, Australia, dan Samudra Hindia.
Ø  Disebelah barat, Indonesia berbtasan dengan Samudra Hindia
Ø  Di sebelah timur, Indonesia berbatasan dengan Papua Neugini dan Samudra Pasifik.
Perhatikan gambar peta di bawah ini.





Pengaruh letak geografis Indonesia:
Indonesia memiliki 2 musim yaitu kemarau dan penghujan, Indonesia memiliki 3 daerah waktu, Perbandingan waktu antara Indonesia dengan Grenwich 7 jam.

Rabu, 21 Oktober 2015

IPSku bab 3 ke 1

Kehidupan Masyarakat Praaksara


1. Kehidupan Pada Masa Pra Aksara di Indonesia

Mempelajari bagaiman kehidupan dimasalalu merupakan kegiatan yang amat menarik. Kahidupan manusia dari jaman kezaman senantiasa mengalami perkembangan. Kehidupan manusia pada jaman pra aksara atau jaman pra sejarah dapat di pelajari melalui berbagai temuan fosil dan artefak sisa kehidupan dimasa lalu. Kehidupan manusia purba adalah kehidupan yang amat sederhana. Manusia purba hidup dan memenuhi kebutuhanya dengan cara berburu dan meramu, berpindah pindah dari satu empat ketempat lain (nomaden). Pada masa pra sejarah manusia belum mengenal tulisan sehingga masa ini di sebut dengan masa pra aksara. Sejak pertama kali bumi diciptakan hingga saat ini, bumi telah banyak sekali mengalami perubahan dan perkebangan. Diperkirakan bumi saat ini telah berusia kurang lebih 2.500 juta tahun. Para ahli geologi membagi masa perkembangan bumi mejadi beberapa zaman yaitu arkeozoikum, paleozoikum, mesozoikum, neozoikum.
  1. Zaman Arkeozoikum. Merupakan zaman tertua, berlangsung kira-kira 2.500 juta tahun yang lalu. Pada masa itu bumi dalam proses pembentukan, permukaan bumi masih sangat panas sehingga belum terdapat makluk hidup yang tinggal di bumi. 
    Pada Zaman Arkeozoikum. Gambar : agus-generatio.blogspot.nl
  2. Zaman Paleozoikum Disebut juga sebagai zaman primer, berlangsung kira-kira 340 juta tahun yang lalu. Zaman ini ditandai dengan terjadinya penurunan suhu yang amat derastis di bumi, bumi mendingin. Pada masa ini lah makluk hidup pertamakali diperkirakan muncul, yaitu makluk bersel satu dan tidak bertulang belakang seperti bakteri, serta sejenis amfibi.
  3. Zaman Mesozoikum Disebut juga sebagai zaman sekunder, berlangsung kira-kira 140 juta tahun yang lalu. Zaman ini ditandai dengan munculnya hewan-hewan reptile besar (dinosaurus) olah karena itu jaman ini disebut juga zaman reptile.
  4. Zaman Neozoikum Zaman Neozoikum berlangsung kira-kira 60 juta tahun yang lalu. Kahidupan di zaman ini mulai stabil, berkembang dan beragam. Zaman ini di bagi menjadi beberapa: a. Zaman Tersier, ditandai dengan mulai berkurangnya hewan-hewan besar. Telah memeiliki berbagai jenis binatang menyusui, diantaranya kera dan monyet. b. Zaman Sekunder, ditandai dengan munculnya tenda-tanda kehidupan manusia purba. Zaman ini dibagi kembali menjadi 2 jaman yaitu: 1) Zaman Pleistosen/dilivium (zaman es/glasial), masa ini ditandai mulai mencairnya es di kutub utara karena perubahan iklim. Berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Pada masa inilah kehidupan manusia mulai ada. Berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. 2) Zaman Holosen/alluvium, masa ini ditandai dengan munculnya hamo sapiens, merupakan nenek moyang manusia modern saat ini. Masa ini berlangsung sekitar 20.000 tahun yang lalu.
A. Pengertian Praaksara atau Prasejarah.
Praaksara atau prasejarah merupakan kurun waktu (zaman) pada saat manusia belum menganal tulisan atau huruf. Praaksara disebut juga zaman nirleka, yaitu zaman tidak ada tulisan. Setelah manusia mengenal tulisan maka disebut zaman sejarah. Berakhirnya zaman prasejarah setiap bangsa berbedabeda berdasarkan perkembangan setiap bangsa tersebut serta informasi yang masuk ke bangsa itu.
Misalnya bangsa Mesir Kuno meninggalkan zaman praaksara sekitar 4000 SM, bangsa Sumeria dan Dravida meninggalkan zaman praaksara sekitar 3000 SM, sedangkan bangsa Indonesia meninggalkan zaman praaksara 400 M.

B. Jenis-jenis Manusia Purba di Indonesia. 
Dari hasil penelitian dan penemuan fosil, oleh para ahli purbakala manusia purba banyak di temukan di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Manusia purba pada masa lampu telah tinggal di beberapa daerah di Pulau Jawa diantaranya di Lembah Bengawan Solo (Jawa Tengah) dan di Lembah Sungai Brantas (Jawa Timur). Dia daerah daerah tersebut di atas banyak di temukan fosil manusia purba. Di Indonesia terdapat beberapa jenis manusia purba diantaranya Meganthropus paleojavanicus, Pithacanthropus erectus, dan Homo (manusia purba modern).
Fosil adalah bagian makhluk hidup yang telah membatu. Gambar : ronalys.blogspot.com
  1. Meganthropus paleojavanicus. Meganthropus paleojavanicus artinya manusia purba yang besar dan tertua di Jawa. Manusia purba ini memiliki ciri tubuh yang kekar, diperkirakan sebagai manusia purba yang paling tua diantara manusia purba yang lain. Fosil manusia purba meganthropus paleojavanicus ditemukan dan diteliti oleh Dr. G.H.R. von Koenigswald pada tahun 1936 dan 1941. Pertama kali fosil makhluk ini ditemukan di  Sangiran, daerah lembah Bengawan Solo, dekat Surakarta. Dari yang dapat dilihat ukuran fosil itu, meganthropus paleojavanicus berbadan besar dengan rahang besar, kening menonjol, dan tulang tebal. Dari keadaan itu, maka makhluk Sangiran tersebut dinamakan Meganthropus Paleojavanicus (mega = besar, anthropos = manusia, paleo = purba, javanicus = manusia jawa). Meganthropus hidup sekitar 2 juta tahun sebelum masehi dan hidup dengan makan tumbuh-tumbuhan. Makhluk tersebut termasuk jenis Homo Hobilis. 
  2. Pithacanthropus erectus. Pithacanthropus erectus artinya manusia kera yang berjalan tegak. Manusia purba ini memiliki ciri-ciri berbadan tegak, dan memiliki tinggi banadan antara 165-180 cm. Pithacanthropus erectus merupakan manusia purba yang paling banyak di temukan di Indonesia diantaranya di Mojokerto, Kedungtrubus, Trinil, Sangiran, Sambungmacan, dan Ngandong. Pertama kali di temukan oleh Eugene Dubois di Trinil dekat Sungai Bengawan Solo, Surakarta, tahun 1891.
  3. Homo. Homo berarti manusia. Manusia purba jenis ini memiliki ciri yang lebih sempurna di bandingkan dengan Meganthropus paleojavanicus dan Pithecantropus erectus. Beberapa jenis homo yang di temukan di Indonesia antara lain. 
  • Homo Soloensis, artinya manusia dari Solo. Ditemukan pada tahun 1931-1934, olah Ter Haar dan Ir. Oppenorth di Ngandong, Lembah Sungai Bengawan Solo. Ciri-ciri Homo Soloensi yaitu berjalan tegak dengan tinggi badan 180 cm, tengkoraknya lebih besar dari Pithacantropus erectus. 
  • Homo Wajakensis, artinya manusia dari Wajak. Ditemukan pada tahun 1889, olah Van Reitschoten di Wajak, Tulungagung, Jawa Timur. Ciri-ciri Homo Soloensi yaitu berjalan tegak dengan tinggi badan 130-210 cm, tengkoraknya lebih bulat muka tidak terlalu menjorok ke depan, dan telah memiliki kemampuan membuat peralatan dari batu, tulang dan kayu. 
  • Homo Sapiens, artinya manusia cerdas. Merupakan generasi terakhir dari manusia purba. Homo sapiens hidup di Zaman Holosen sekitar 4000 tahun yang lalu. Memiliki ciri-ciri fisik yang sudah hampir sama dengan manusia modern saat ini.
C. Perkembangan Kehidupan Manusia Purba di Indonesia. 
Kehidupan manusia purba pada masa praaksara senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan dan perkembangan itu dapat di jelaskan sebagai berikut.

1. Masa Berburu dan Meramu Kehidupan. 
Manusia purba masa berburu dan meramu senantiasa berpindah-pindah (nomaden).
Kehidupan pada masa berburu dan meramu disebut food gathering artinya mengumpulkan makanan yang di sediakan oleh alam tanpa mengolah atau menanam terlebih dahulu. Alat-alat yang digunakan pada masa itu antara lain kapak perimbas untuk marimbas kayu, menguliti binatang, dan memecah tulang; kapak genggam untuk menggali umbi dan memotong hewan buruan; dan alat serpih digunkaan sebagai pisau.

2. Masa Bercocok Tanam Pada. 
Masa ini manusia purba sudah mengenal bercocok tanam (food producing). Namun demikian kehidupan berburu dan merapu tidak sepenuhnya ditinggalkan. Masa ini pula manusia purba mulai tinggal menetap (sedenter) di suatu kampung dengan rumah panggung. Alat-alat yang di gunakan pada masa bercocok tanam berasal dari batu yang telah di haluskan, antara lain mata panah untuk berburu; barang pecah belah dari tanah liat (gerabah); beliung persegi untuk menebang kayu dan mencangkul; kapak lonjong untuk mengolah tanah.

3. Masa Perundagian (Pertukangan) 
Pada masa ini manusia sudah mengenal teknologi sederhana dan pembagian kerja. Saat itu manusia menganal pertukangan dan pengecoran logam seperti perunggu, tembaga dan besi sebagai barangbarang kebutuhan rumah tangga. 

a. Nekara dan Moko, berbentuk seperti tambur atau dandang terbalik. Digunkaan pada upacara adapt sebagai benda pusaka. 
Nekara. Sumber : zulkhanbrambang.blogspot.com

b. Kapak perunggu/kapak corong, berbentuk menyerupai corong terbuat dari perunggu. 
Kapak Perunggu. Sumber : museumnasional.wordpress.com

c. Benda-benda lain, seperti bejana perunggu, manik-manik, gerabah dan mata tombak. 
Mata Tombak. Sumber : en.wikipedia.org

D. Sistem Kepercayaan Manusia Purba. 
Pada Masa Praaksara Seiring dengan perkembangan kemampuan berfikir, manusia purba mulai mengenal kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan lain di luar dirinya. Untuk menjalankan kepercayaan yang diyakininya manusia purba malakukan berbagai upacara dan ritual. Sistem akepercayaan yang di anut manusia pada masa prakasara atau masa prasejarah antara lain animisme, dinamisme, totemisme, dan shamanisme.
a. Animisme, adalah percaya pada roh nenek moyang maupun roh-roh lain yang mempengaruhi kehidupan mereka. Upaya yang dilakukan agar roh-roh tersebut tidak mengganggu adalah dengan memberikan sesaji. 

b. Dinamisme, adalah percaya pada kekuatan alam dan benda-benda yang memiliki gaib. Manusia purba melakukanya dengan menyembah batu atau pohon besar, gunung, laut, gua, keris, azimat, dan patung. 

c. Totemisme, adalah percaya pada binatang yang dinganggap suci dan memiliki kekuatan. Dalam melakukan upacara ritual pemujaan manusia purba membutuhkan sarana, dengan membangun bangunan dari batu yang dipahat dengan ukuran yang besar. Masa ini di sebut sebagai kebudayaan Megalitikum (kebudayaan batu besar). 

Bangunan yang di buat pada masa megalitikum diantaranya. 
a. Menhir, adalah tiang atau tugu batu yang berfungsi sebagai prasasti dan melambangkan kehormatan arwah nenek moyang. 
Menhir. Sumber : www.jiroolcott.com
Menhir. Besar perbandingan
b. Dolmen, adalah meja batu untuk meletakkan sesaji. 
Dolmen. Sumber : europebyfootball.wordpress.com
c. Peti Kubur Batu, adalah lempeng batu besar berbentuk kotak persegi panjang berfungsi sebagai peti jenazah. 
Peti Kubur Batu. Sumber : belajarbarengsilvie.blogspot.com
d. Sarkofagus, adalah batu besar yang di pahat berbentuk mangkuk terdiri dari dua keeping yang ditangkupkan menjadi satu. Berfungsi sebagai peti jenazah. 
Sarkofagus. Sumber : bilisitungkir.wordpress.com
 e. Punden Berundak, adalah bangunan berupa batu susunan batu berundak seperti candi. Digunakan untuk upacara pemujaan. 
Punden Berundak. Sumber : wa-iki.blogspot.com
f. Waruga, adalah peti kubur batu berukuran kecil, berbentuk kubus dan memiliki tutup lempengan batu yang lebar.
 
Waruga. Sumber : marlinasimin.blogspot.com

2. Berakhirnya Masa Praaksara di Indonesia

Berakhirnya masa praaksara tiap-tiap bangsa tidak bersamaan. Mengapa demikian? Hal ini berkaitan erat dengan tingkat peradaban dari bangsa-bangsa yang bersangkutan. Bangsa Sumeria misalnya, telah mengenal tulisan sejak 4000 SM. Bangsa Sumeria menggunakan simbol-simbol sebagai huruf yang disebut piktograf. Sedangkan, Bangsa Mesir Kuno mengenal tulisan sejak 3000 SM. Tulisan Bangsa Mesir Kuno hampir sama dengan tulisan Bangsa Sumeria. Hanya perbedaannya, huruf Bangsa Mesir Kuno menggunakan simbol-simbol seperti perkakas, hewan, atau alat transportasi tertentu. Huruf ini disebut hieroglif.
Hieroglif. Sumber : depositphotos.com
Indonesia mengakhiri masa praaksara pada awal abad ke-5 Masehi. Para pedagang India datang pada saat itu dan membawa kebudayaan dari India berupa seni arsitektur bangunan, sistem pemerintahan, seni sastra dan tulisan. Tulisan tertua di Indonesia terdapat di Batu Yupa, Kutai, Kalimantan Timur. Tulisan tersebut menggunakan huruf Pallawa. Sejak berakhirnya masa praaksara, muncullah masa aksara (masa sejarah). Di Indonesia, sudah mengalami kemajuan. Sistem pemerintahan kerajaan mulai berkembang, agama Hindu-Buddha mulai berkembang. Kegiatan perdagangan dan pelayaran pun semakin maju.
sumber :http://ips-abi.blogspot.co.id/2013/07/kehidupan-pada-masa-pra-aksara-di.html

IPSku bab 2 ke 1

Keadaan Iklim Indonesia

Alam Indonesia dikenal sangat indah dan kaya akan berbagai sumber daya alam. Tidak heran jika banyak wisatawan dari berbagai negara tertarik dan datang ke Indonesia. Kegiatan pariwisata pun berkembang di sejumah wilayah seperti Bali, Yogyakarta, Lombok, dan lain-lain sehingga mendatangkan keuntungan ekonomi yang tidak sedikit. Tuhan telah berikan pada kita semua berupa hutan, sungai, danau, gunung dan pegunungan yang tampak memesona. Ingatlah, keindahan tersebut tidak semua negara memilikinya. Banyak negara yang sebagian wilayahnya hanya berupa padang pasir, hamparan es, padang rumput, dan lain-lain.
Keadaan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu keadaan fisik wilayah serta keadaan flora dan fauna. Keadaan fisik wilayah terdiri atas keadaan iklim dan keadaan bentuk permukaan bumi (kondisi fisografis) yang kemudian akan menentukan jenis tanahnya. Sementara keadaan flora dan fauna menyangkut jenis keragaman dan sebarannya.

Keadaan Iklim Indonesia
Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada suatu wilayah dalam jangka waktu yang relatif lama. Cuaca adalah keadaan suhu udara, tekanan udara, curah hujan, angin, sinar matahari pada waktu dan tempat tertentu. Letak astronomis Indonesia yang berada di wilayah tropis membuat Indonesia beriklim tropis. Ciri iklim tropis adalah suhu udara yang tinggi sepanjang tahun, dengan rata-rata tidak kurang dari 18° C, yaitu sekitar 27° C. Di daerah tropis, tidak ada perbedaan yang jauh atau berarti antara suhu pada musim hujan dan suhu pada musim kemarau. Ciri daerah tropis lainnya adalah lama siang dan lama malam hampir sama yaitu sekitar 12 jam siang dan 12 jam malam.
iklim
Keadaan iklim di Indonesia dipengaruhi oleh tiga jenis iklim, yaitu iklim musim, iklim laut, dan iklim panas. Gambaran tentang ketiga jenis iklim tersebut adalah seperti berikut.
  1. Iklim musim, dipengaruhi oleh angin musim yang berubah-ubah setiap periode waktu tertentu. Biasanya satu periode perubahan adalah enam bulan.
  2. Iklim laut, terjadi karena Indonesia memiliki wilayah laut yang luas sehingga banyak menimbulkan penguapan dan akhirnya mengakibatkan terjadinya hujan.
  3. Iklim panas, terjadi karena Indonesia berada di daerah tropis. Suhu yang tinggi mengakibatkan penguapan yang tinggi dan berpotensi untuk terjadinya hujan.
Ketiga jenis iklim tersebut berdampak pada tingginya curah hujan di Indonesia. Curah hujan di Indonesia bervariasi antarwilayah, tetapi umumnya sekitar 2.500 mm/tahun. Walaupun angka curah hujan bervariasi antarwilyah di Indonesia, tetapi pada umumnya curah hujan tergolong besar. Kondisi curah hujan yang besar ditunjang dengan penyinaran matahari yang cukup membuat Indonesia sangat cocok untuk kegiatan pertanian sehingga mampu memenuhi kebutuhan penduduk akan pangan.

Hal yang menarik bagi Indonesia adalah terjadinya angin muson. Angin muson adalah angin yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara antara samudra dan benua. Pada saat samudra menerima penyinaran matahari, diperlukan waktu yang lebih lama untuk memanaskan samudra. Sementara itu, benua lebih cepat menerima panas. Akibatnya, samudra bertekanan lebih tinggi dibandingkan dengan benua, maka bergeraklah udara dari samudra ke benua.

Pada saat musim hujan di Indonesia (Oktober sampai April), angin muson yang bergerak dari Samudra Pasifik menuju wilayah Indonesia dibelokkan oleh gaya corioli sehingga berubah arahnya menjadi angin barat atau disebut angin muson barat. Gaya coriolis adalah gaya semu akibat pengaruh rotasi bumi sehingga angin seolah-olah dibelokkan ke arah kanan dari Belahan Bumi Utara (BBU) dan dibelokkan ke kiri dari Belahan Bumi Selatan. Pada saat bergerak menuju wilayah Indonesia, angin muson dari Samudra Pasifik telah membawa banyak uap air sehingga diturunkan sebagai hujan di Indonesia. 

Peristiwa sebaliknya terjadi pada saat musim kemarau (Mei sampai September). Pada saat itu, angin muson dari Benua Australia atau disebut angin timur yang bertekanan maksimun bergerak menuju Benua Asia yang bertekanan minimum melalui wilayah Indonesia.

Karena Benua Australia sekitar 2/3 wilayahnya berupa gurun, udara yang bergerak tadi relatif sedikit uap air yang dikandungnya. Selain itu, udara tadi hanya melewati wilayah lautan yang sempit antara Australia dan Indonesia sehingga sedikit pula uap yang dikandungnya. Pada saat itu, di Indonesia terjadi musim kemarau.

Unsur-unsur Iklim
Walaupun cuaca dan iklim berbeda, tetapi unsur-unsur yang membentuknya adalah sama. Unsur-unsur pembentuk cuaca dan iklim adalah sebagi berikut

1.Penyinaran Matahari
Matahari merupakan pengatur iklim di bumi yang sangat penting dan menjadi sumber energi utama di bumi. Energi matahari dipancarkan ke segala arah dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Penyinaran Matahari ke Bumi dipengaruhi oleh kondisi awan dan perbedaan sudut datang sinar matahari.

2.Suhu Udara
Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara yang sifatnya menyebar dan berbeda-beda pada daerah tertentu. Persebaran secara horizontal menunjukkan suhu udara tertinggi terdapat di daerah tropis garis ekuator (garis khayal yang membagi bumi menjadi bagian utara dan selatan) dan semakin ke arah kutub suhu udara semakin dingin. Sedang persebaran secara vertikal menunjukkan, semakin tinggi tempat, maka suhu udara semakin dingin. Alat untuk mengukur suhu disebut termometer.

3.Kelembapan Udara (humidity)
Dalam udara terdapat air yang terjadi karena penguapan. Makin tinggi suhu udara, makin banyak uap air yang dikandungnya. Hal ini berarti, makin lembablah udara tersebut. Jadi, Humidity adalah banyaknya uap air yang dikandung oleh udara. Alat pengukurnya adalah higrometer.

4. Awan
Awan merupakan massa dari butir-butir kecil air yang larut di lapisan atmosfer bagian bawah. Awan dapat menunjukkan kondisi cuaca.

5.Curah Hujan
Curah hujan adalah jumlah hujan yang jatuh di suatu daerah selama waktu tertentu. Untuk mengetahui besarnya curah hujan digunakan alat yang disebut penakar hujan (Rain Gauge).

6.Angin
Angin adalah udara yang berggerak dari daerah yang bertekanan tinggi (maksimum) ke daerah yang bertekanan rendah (minimum). Perbedaan tekanan udara disebabkan oleh adanya perbedaan suhu udara. Bila suhu udara tinggi, berarti tekanannya rendah dan sebaliknya. Alat untuk mengukur arah dan kecepatan angin disebut anemometer.

Ciri-ciri Iklim Panas/Tropis
Letak astronomis indonesia terletak di antara 6° LU-11° LS dan 95° BT-141° BT sehingga Indonesia termasuk dalam iklim tropis. Berikut adalah karakteristik iklim tropis.
  1. Suhu udara rata-rata tinggi, karena matahari selalu vertikal. Umumnya suhu udara antara 20–23° C. bahkan di beberapa tempat rata-rata suhu tahunannya mencapai 30°C.
  2. Amplitudo suhu rata-rata tahunan kecil. Di khatulistiwa antara 1°C – 5°C, sedangkan amplitudo hariannya lebih besar.
  3. Tekanan udaranya rendah dan perubahannya secara perlahan dan beraturan.
  4. Hujan banyak dan lebih banyak dari daerah-daerah lain di dunia.
  5. Di pengaruhi oleh pergerakan peredaran matahari yang menyebabkan peredaran pola angin sehingga terdapat dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.
  6. Di beberapa pulau besar seperti sumatra, jawa, kalimantan, sulawesi, dan papua terdapat gunung-gunung yang tinggi sehingga memengaruhi variasi unsur iklim di setiap wilayahnya.
  7. Indonesia juga memiliki iklim tropis, hal ini di pengaruhi bentuk wilayah indonesia yang berupa kepulauan. Sebagian besar tanah daratan indonesia di kelilingi oleh laut atau samudra. Itulah sebabnya di indonesia terdapat iklim laut. Sifat iklim ini lembab dan banyak mendatangkan hujan.   sumber: http://mastugino.blogspot.co.id/2015/07/keadaan-iklim-indonesia.html
  8.  

IPSku bab 2 ke 2

Bentuk Muka Bumi dan Aktivitas Penduduk Indonesia


    DATARAN RENDAH
                                  
Dataran rendah adalah bagian dari permukaan bumi dengan letak ketinggian 0-200 m di atas permukaan laut. Di daerah dataran rendah, aktivitas  yang dominan adalah aktivitas pemukiman dan pertanian.
Di daerah ini biasanya terjadi aktivitas pertanian dalam skala luas dan pemusatan penduduk yang besar.
Di Pulau Jawa, penduduk memanfaatkan lahan dataran rendah untuk menanam padi sehingga pulau jawa menjadi sentra penghasil padi terbesar.
Di kawasan pantai banyak penduduk mayoritasnya sebagai nelayan
Bencana alam yang berpotensi terjai di dataran rendah adalah banjir, tsunami,dan gempa.
Banjir di dataran rendah terjadi karena aliran air sungai yang tidak mampu lagi ditampung oleh alur sungai. Banjir juga disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan kurangnya daerah resapan air.
Banjir dapat dicegah mulai dari hal yang kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Memiliki kebiasaan menanam pohon juga salah satu upaya mencegah banjir.
BUKIT DAN PERBUKITAN

Bukit adalah bagian dari permukaan bumi yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya dengan ketinggian kurang dari 600 m diatas permukaan laut. Perbukitan berarti kumpulan dari seumlah bukit pada suatu wilayah tertentu.
Di daerah perbukitan, aktivitas permukiman tidak seperti di dataran rendah. Pemukiman umumnya dibangun di kaki atau lembah perbukitan karena biasanya di tempat tersebut ditemukan sumber air berupa mata air atau sungai.
Aktivitas ekonomi, khususnya pertanian, dilakukkan dengan memanfaatkan lahan – lahan dengan kemiringan lereng tertentu.
Untuk mengurangi erosi, penduduk menggunakan teknik sengkedan atau terasering dengan memotong bagian lereng tertentu agar menjadi datar.
Tanaman yang ditanam umumnya adalah umbi – umbian atau palawija dan tanaman tahunan (kayu dan buah – buahan). Sebagian penduduk juga memanfaatkan lahannya untuk tanaman padi.
Daerah perbukitan dapat dikembangkan menjadi daerah pariwisata karena panoramanya yang indah.                                                  
Potensi bencana alam yang dapat terjadi di daerah perbukitan adalah longsor.
Agar kita terhindar dari bencana longsor dan dampak yang ditimbulkan pada saat dan setelah terjadi longsor kita perlu:
1.     Menghindari membangun rumah di wilayah rawan longsor, seperti di daerah yang berlereng curam yang gundul.
2.     Kita perlu mengenali tanda – tanda longsor di sekitar kita.
Tanah longsor dapat dicegah dengan cara menanami kembali hutan yang gundul atau melakukaan tindaakan penghijauan karena akar – akar pohon dapat menahan tanah atau bebatuan agar tidak jatuh.
DATARAN TINGGI

Dataran tinggi adalah daerah datar yang memiliki ketinggian lebih dari 400 meter diatas permukaan laut.
Daerah ini memungkinkan mobilitas penduduk berlangsung lancar seperti halnya di dataran rendah.
Beberapa dataran tinggi di indonesia berkembang menjadi pemusatan ekonomi penduduk, seperti di dataran tinggi bandung.
Aktivitas pertanian juga berkembang di dataran tinggi. Di daerah ini, sebagian enduduk menanam padi dan beberapa jenis sayuran. Suhu yang tidak terlalu panas memungkinkan penduduk menanam beberapa jenis sayuran seperti tomat dan cabe.
Sejumlah dataran tinggi menjadi daerah tujuan wisata. Alamnya yang indah menjadi daya tarik para wisatawan untuk datang berkunjung.
Potensi bencana alam di dataran tinggi biasanya adalah banjir. Karena bentuk muka buminya yang datar, dataran tinggi berpotensi menimbulkan genangan air.
Banjir dapat disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, kurangnya daerah resapan atau meluapnya sungai akibat sampah yang bertumpukkan.
Banjir dapat dicegah dengan cara membuang sampah pada tempatnya serta menjaga lingkungan tetap bersih.
GUNUNG DAN PEGUNUNGAN
Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerh sekitarnya. Biasanya bagian yang menjulang dalam bentuk puncak – puncak dengan ketinggian 600 meter diatas permukaan laut.
Pegunungan adalah bagian dari dataran yang merupakan kawasan yang terdiri atas deretan gunung – gunung dengan ketinggian lebih dari 600 meter diatas permukaan laut.
Penduduk yang tinggal di gunung atau pegunungan memanfaatkan lahan yang terbatas untuk pertanian.
Komoditas yang dikembangkan biasanya adalah sayuran dan buah – buahan seperti perkebunan teh. Sebagian penduduk memanfaatkan lahan yang miring dengan menanam beberapa jenis kayu  untuk dijual.
Pemukiman dibangun di daerah yang dekat dengan sumber air, terutama di lereng bawah atau di kaki gunung.
Selain pertanian, aktivitas lainnya yang berkembang adalah pariwisata. Pemandangan alam yang indah dn udaranya yang sejuk menjadi daya tarik wisata.
Potensi bencana alam di daerah gunung atau pegunungan adalah gunung meletus.
Gunung berapi adalah gunung yang memiliki lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Ciri gunung berapi adalah adanya kawah atau rekahan.
Saat terjadi gunung meletus sebaiknya kita hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas
dan Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan.
sumber: http://nastaliha.blogspot.co.id/2015/08/bentuk-muka-bumi-dan-ktivitas-penduduk.html